Posts

MALANG

Image
Seperti dinihari tadi ia mengajak bercerita tentang ombak, air dan terbenamnya cahaya. Satu hal yang tak dapat dielakkan adalah ajakannya, permintaannya, kemauannya. Bagi ku mengadu ialah sang telinga Cerita ialah perekam setia'  Namun di serial tawa itu kadang api duka menyala , entah dari sudut, tengah atau kadang nyala dengan sendirinya. Namun kini hanya satu Batang yang tersisa Add caption

TAK BERMAKNA

Specuk bunga sepasang cincin Seratus kata untuk hatimu yang telah dingin. Mendamba pada mu Urung terucap Lalai menghitung sayup dalam lelap Sukar bertanya bisu kau ucap. Namun... Terlihat senyum-senyum sesat melambai Tak menanam namun coba menuai Keras tak ternilai kalau memiliki permata dalam semua andai. Kini tampak ia berjalan sembari mengguai andai saja perahu itu telah sampai pada pelabuhan mungkin muatan tak harus terbengkalai , atau andai saja pelabuhannya tak sejuk dan ramai, atu aku dan kau yang seharusnya tak berandai-andai. Kiniiiii Telah larut garam dalam hujan, panas bara sesak di badan, lelap pemuda dalam lamunan, Sadar kadang makna jauh dari sempurna, lupa jika kau juga melihat ku berlaga Maka biarlah kau yang menilai surga apa yang telah kau hirup di dunia?

TEKA

Separuh dari teka teki ini mulai bertutur. Mengisahkan malam dan bulan membaur. Kedua gadis malam tak akur. Kini sosok kecil ku mulai melantur, kadang dan hanya sesaat saja ia terlihat senyum pada dunia catur. Kisah dibalik semangat itu mulai menegur Mempertanyakan waktu yang tak mundur. Sesuatu tersisa telah melumpur , terinjak injak disisi dengan kebencian tak sukur. Seperti hari yang ku percayai kan berganti, seperti dalam mimpi yang biasa kau ceritakan Layak hati yang selalu kau temani Walau bisu ku kini memakan. Terlintas .......,...... Dalam titik ?

DIMIMPI PAGI MALAS KU

                                                                  Beranjak dari pagi di mimpi malam ku Kisah di kehidupannyata Namaun tak mungkin bisa kau mengerti. Kenyataan yang kuharap di kelam dini hari. Saat tak peduli, saat tak diingin, kau tepis dengan hadir mu, Kertas lusuh milikku telah tak berdaya. Tak kau banggakan sejak sajak dusta menggema. Salah tak kuharap di kening mu. Kau terindah dari serpihan kisah bodoh ku. Sembari bercerita di palang pintu bisu, dengan hanya hatimu mu yang mendengar ku, kembalilah senyum ku, Ikutlah bersama, awan mu tak beku, sinar mu tak selamanya gemerlap ,  pulanglah gadis kecil ku, Salah pastilah berpapah Benar patutlah petuah Tak kuharapkan kau menanggung semua sendiri. Kau memilih Menurut dan ia Seperti dulu Terima dan bahagia Setelah itu kan ku tutup mata ku....

MALAM SEBELUM PAGI

seperti sebelum hari ini malam atau ketika sudah pagi nyanyian yang terniang dikedua telinga belum berani berhenti ketakutan itu membebani yang tak punya nyali mempertanyakan sesuatu yang tak bisa kujelaskan sendiri aku butuh penuntun jika sudah sedalam ini buih kesalahan kesakitan ditiap malam yang enggan disalahkan penyakit untuk tidak berbaikan sesakit ketika tak didengarkan penyebab sakit yang penyakitan  padangan yang tak pernah lagi lurus pengorbanan demi pengorbanan yang tak ku artikan tulus sejenak kebaikan hanya berubah pupus secangkir kopi dimalam menuju pagi berpikir untuk mahir dan tak terulang lagi biarkan yang telah terjadi menjadi bukti diri bahwa yang terakhir tersenyum akan menelan nyeri ketika senyuman itu memmudar baru tersadar bahwa ada sesuatu yang tak benar walau semula hanya sebuah nalar. kembali meyakinkan diri tentang siapa ini diri. jelas aku tak mau terbagi berbagi pada sarsan yang tak paham tentang se...

RATAP

masih terniang dalam pikir saat semua cerita ini mulai terukir pada kisah yang terus bergulir aku mampir sejenak di teras sang gadis membicaran sesuatau yang kini tak lagi menjadi manis kebiasan ini membuat ku terusik  katanya semua telah berakhir katanya semua telah menuju akhir katanya semua hanya menanti takdir rasanya ingin kubawa kau menysuri tepi danu tempat ku berlabuh merasakan nikmatnya sawah dan pemandangan yang dapat membuat mu teduh kesah dan eluh mu yakin ku kan runtuh jika kata sayang masihkan tetap berubah manisnya perhatian akan membuat mu serba salah kini aku juga pasrah kebenaran yang kuteriama terlalu lama  terlamabat tak sempat paham kah engaku  aku telah  merasa  salah dalam  bercerita ttak lagi dalam percaya aku  berharap  kau  kan  mengerti bila  ku toreh  bengini

AWAL NIKOTIN

ku temukan ia. seingatku, dibelakang kantin di  dekat r uang kelas, 3.07. bersama beberapa bocah berseragam putih biru,. jongk o k  berurutan sambil melempar ledekan yang ta k begitu manis. terbawa arus. dimakan rayuan. dikenalkan. dan kini ia juga yang menemaniku. kala senang, tawa, tak pernah ia lepaskan jemari untuk beranjak pergi. kadang niat pun tak terbesit untuk melepas gengaman itu. kata mereak ia pembawa kiamat. d o sa. neraka. ah. namun a k u tau. aku jugalah yang salah, mengapa memungut ia dari grombolan bocah itu. kini hanya tersEdaK sadar bahwa ia yang tak pernah kulepaskan itu perlahan mencekik ubun-ubun ku. na m un kata dan cara sirna s a at rayuannya memanggilku . aku t erlena dalam duka, tersedak dalam canda, bahkan tert i pu dalam kebersamaan. gara-gara ia aku bannyak kehilangan  kawan, kepercayaan, atau cara pandang . aku meyerah pada ROKOK Maaf