Posts

Showing posts from December, 2016

MALAM SEBELUM PAGI

seperti sebelum hari ini malam atau ketika sudah pagi nyanyian yang terniang dikedua telinga belum berani berhenti ketakutan itu membebani yang tak punya nyali mempertanyakan sesuatu yang tak bisa kujelaskan sendiri aku butuh penuntun jika sudah sedalam ini buih kesalahan kesakitan ditiap malam yang enggan disalahkan penyakit untuk tidak berbaikan sesakit ketika tak didengarkan penyebab sakit yang penyakitan  padangan yang tak pernah lagi lurus pengorbanan demi pengorbanan yang tak ku artikan tulus sejenak kebaikan hanya berubah pupus secangkir kopi dimalam menuju pagi berpikir untuk mahir dan tak terulang lagi biarkan yang telah terjadi menjadi bukti diri bahwa yang terakhir tersenyum akan menelan nyeri ketika senyuman itu memmudar baru tersadar bahwa ada sesuatu yang tak benar walau semula hanya sebuah nalar. kembali meyakinkan diri tentang siapa ini diri. jelas aku tak mau terbagi berbagi pada sarsan yang tak paham tentang se...

RATAP

masih terniang dalam pikir saat semua cerita ini mulai terukir pada kisah yang terus bergulir aku mampir sejenak di teras sang gadis membicaran sesuatau yang kini tak lagi menjadi manis kebiasan ini membuat ku terusik  katanya semua telah berakhir katanya semua telah menuju akhir katanya semua hanya menanti takdir rasanya ingin kubawa kau menysuri tepi danu tempat ku berlabuh merasakan nikmatnya sawah dan pemandangan yang dapat membuat mu teduh kesah dan eluh mu yakin ku kan runtuh jika kata sayang masihkan tetap berubah manisnya perhatian akan membuat mu serba salah kini aku juga pasrah kebenaran yang kuteriama terlalu lama  terlamabat tak sempat paham kah engaku  aku telah  merasa  salah dalam  bercerita ttak lagi dalam percaya aku  berharap  kau  kan  mengerti bila  ku toreh  bengini

AWAL NIKOTIN

ku temukan ia. seingatku, dibelakang kantin di  dekat r uang kelas, 3.07. bersama beberapa bocah berseragam putih biru,. jongk o k  berurutan sambil melempar ledekan yang ta k begitu manis. terbawa arus. dimakan rayuan. dikenalkan. dan kini ia juga yang menemaniku. kala senang, tawa, tak pernah ia lepaskan jemari untuk beranjak pergi. kadang niat pun tak terbesit untuk melepas gengaman itu. kata mereak ia pembawa kiamat. d o sa. neraka. ah. namun a k u tau. aku jugalah yang salah, mengapa memungut ia dari grombolan bocah itu. kini hanya tersEdaK sadar bahwa ia yang tak pernah kulepaskan itu perlahan mencekik ubun-ubun ku. na m un kata dan cara sirna s a at rayuannya memanggilku . aku t erlena dalam duka, tersedak dalam canda, bahkan tert i pu dalam kebersamaan. gara-gara ia aku bannyak kehilangan  kawan, kepercayaan, atau cara pandang . aku meyerah pada ROKOK Maaf

WAJAHMU SEKARANG

beberapa pelukis  mengitari pemakaman sajarawan telah terkubur dalam ingatan si pesajak sudah buntu pemahaman lalu ia bertanya mengapa demikian ? ahli bahasa berotak pada pengajaran kualitas tak pernah jadi keutamaan aku tak lagi bisa bertahan  umur tak semuda keadaan bertanya ia mengapa demikian ? buku tak lagi jadi panutan hiburan jadi kemalam-malaman masa kini tak ada harapan masa depan tinggal angan ? terbangun lalu ia bertanya mengapa demikian ? daun lontar memang tak bisa dimakan untuk obat suster tau apa kegunaan  tapi kini yang tau kebanyakkan katanya demi kesehatan racun terbungkus jadi penawar kemiskinan. ia berkata kembali dan berkata ternyata demikian ? aku tertidur karena memang aku tak paham menepis kenyataan yang ku katakan merubah dunia harus dengan peperangan.