AWAL NIKOTIN
ku temukan ia.
seingatku, dibelakang kantin di dekat ruang kelas, 3.07.
bersama beberapa bocah berseragam putih biru,.
jongkok berurutan sambil melempar ledekan yang tak begitu manis.
terbawa arus.
dimakan rayuan.
dikenalkan.
dan kini ia juga yang menemaniku.
kala senang, tawa, tak pernah ia lepaskan jemari untuk beranjak pergi.
kadang niat pun tak terbesit untuk melepas gengaman itu.
kata mereak ia pembawa kiamat.
dosa.
neraka.
ah. namun aku tau.
aku jugalah yang salah, mengapa memungut ia dari grombolan bocah itu.
kini hanya tersEdaK
sadar bahwa ia yang tak pernah kulepaskan itu perlahan mencekik ubun-ubun ku.
sadar bahwa ia yang tak pernah kulepaskan itu perlahan mencekik ubun-ubun ku.
namun kata dan cara sirna saat rayuannya memanggilku .
aku terlena dalam duka, tersedak dalam canda, bahkan tertipu dalam kebersamaan.
aku terlena dalam duka, tersedak dalam canda, bahkan tertipu dalam kebersamaan.
gara-gara ia aku bannyak kehilangan
kawan, kepercayaan, atau cara pandang .
aku meyerah pada ROKOK
Maaf
Maaf
Comments
Post a Comment