Posts

UNTUK YANG TELAH IKUT BERPISAH

Tak sering bangun pagi Rutin bangun siang begadang bukan tanpa alasan Jujurnya aku menunggu kunang-kunang, Ia telah hilang apalagi dikota mu sekarang Hahaha kurang menarik ya. Kepergian kalian tak membuat kepala ku tambah ringan Malah membuat ku lebih banyak bertanya tanya. Mengapa tentang kita jadi serumit ini. Aku tak mau mengaitkannya dengan cinta Tapi mau tak mau penyebabnya hanya itu saja, kita semua tergoda dengan tawa yang lebih mempesona dari sekedar cerita Kita lebih ingin membahas perkara dengan manusia yang berbeda, kita jenuh menanggapi hidup sekedar tukar kisah. Lalu ledakan itu jadi satu kesatuan dan mampu membuat ku ikut berpisah jalan. Tentang  ku bagi mu mungkin bukan lagi jadi persoalan Tapi inilah aku, diwaktu luang yang panjang mengenang jadi pengisi hari- hari. Tapi biarlah telah terjadi Mengulang seperti remedial aku tak sanggup lagi Mengisi lembar jawaban dengan persoalan yang sama mungkin tak lagi menarik Mencontek diwaktu ulangan tak ba...

KAKI BUKIT !!

Image
Saat berdiri disisi bukit ini  Terasa masih kemarin kita jejaki Bekas kaki mu masih terlihat walau terganti lumpur usai hujan sore tadi  Kilauan senja yang sama kita nikmati  Tertutup awan kini  Seakan coba menghapus sesuatu Tapi  Saat alunan gitar mengema aku ingat semua, kita telah lama berhenti Talah lama tak ingin mendaki Sma-sama sibuk sendiri Dan saat aku jejaki bukit ini lagi  Tanpa kau dan senyum nikmat berbagi  Semu terasa berbeda Seperti rasa hampa yang melubangi Isi hati Walau aku mengharapkan semua kembali Aku putuskan untuk bernyanyi sendiri

Arti Mengikhlaskan

Terkadang aku hanya ingin tau keberadaan mu bukan ingin mengikat dengan kata sayang. Berhari hari sebuah kabar ku nanti Kepergian tanpa alasan bukan hal mudah untuk di alami. Sunyi , kebiasaan telah tersusun rapi Ucapan "selamat pagi " dari mu sungguh ku rindu kini. Namun yasudah mengela nafas dan apa boleh buat aku pasrah, saat aku berharap pada mu mungkin pandangan telah berubah arah. Di awal semester kau kembali Tidak langsung ku dengar dari mu Seorang kenalan menceritakannya padaku. Kau masih seperti biasa Pakai kacamata, baju yang tertutup dan kulit mu yang putih Langsa. Aku sudah menutup hati tuk bertanya Ku biarkan kabar itu berlalu tanpa ku mau merasa rasa. Sudah lama aku belajar melupa Alasan ku bukan karena kepergian yang begitu saja. Karena usaha ku yang ku anggap sia sia. Tapi mungkin saja ini tak berjalan cepat Saat aku telah kukuh menutup hati Kau telah menanti di tempat biasa ku menghabiskan hari. Entah apa yang memb...

#12211

Tak banyak yang bisa ku katakan selain sukur atas segala limpahan Terlalu banyak untuk disesali Bahkan sebagian berkarat dan bersarang di hati satu kunci yang selalu kau beri "perbaiki" Kini menginjak angka 21 Pencarian atas jati diri telah berlalu Pantasnya sekarang fokus pada satu Tak berbelit Belit atau kaku Terimakasih padamu Allah Tuhan ku Alhamdulillah Astaghfirullah Kau satu dan selalu begitu.

Orang!

Pertama. Pura-pura  menyimpan lara Tersenyum tulus jauh dari pancangnya Tutur kata diatur  belah logika Tujuan lindur ntah apa guna  Kedua. Melakoni peran itu hinga tua Merasa benar dan bungkam Rima bahasa,  Muak untuk bertanya Sesal nanti sudah biasa Tiga . Bukan peran utama Tapi punya jalan cerita Kisah diatur hati penentunya Jauh dari atur cibir dan terluka Sampai tua juga tak apa Empat. Merasa penghibur Pembahasan anti ngawur Sudah berumur  Walau nasi sudah menjadi bubur  Masih coba  mengatur Lima. Suka suka  Jauh dekat hal biasa Rupa senag dan tawa bukan kesan utama Diatas kepentingan sendiri  Sisanya biar urus sendiri

KAU DAN TANAPA !!!

Pinus menari Merpati riuh memangil  Dan kau  Hari  kembali sunyi hilang trik membisik Tersisa embun halus menggigil Dan kau Rembulan tanpak di sela tawa Bintang cemerlang usik-usikan  Dan kau Langkah urung menjadi hasil Kecil harapan tuk bisa bergulir Roda kekurangan detail Dan kau Pulang kembali ke sisi Tersenyum dan sakit kembali Dan kau Kini terbenam Sayup pandangan Hilang keriangan Tak terjawab atas pertanyaan Tanpa kau Pinus menua Merpati senyap bisu Lalu kau? Hari  kembalii hilang gelap kentara Tersisa embun halus menggigil Lalu kau ? Rembulan tanpak di sela lara Bintang hilang   Lalu kau ?

PONSEL!

Menatap ponsel lamaku Terkenang manis pilu menyatu Kala kau mulai merayu Masa indah dan duka menyatu Kini terasing disisi kamarku Membisu dengan Krip lampu yang tak lagi biru. Ketika masa membuat semua nyata berlalu Ketika sesal dan sadar yang kian menderu .Kebohongan. Kini ku sadar seberapa kecil diriku. Bait puisi ku tak lagi seperti dulu, dimana tiap sajaknya terlukis tentang mu. Tenggelam lah kau Dengan Krip bintang kesayangan mu. Lupakan tiap dering di ponsel mu

Tanda?

Ketika para benih telah berubah menjadi kecamba, kala rupa telah berganti mimiknya. Seperti itu juga cerita yang kehilangan populernya. Silih berganti semua berubah Memilih arah  Mengumpulkan Maslah Terbelah dan menjadi sebuah kisah Seperti pusi beribu makana bagaimana aku? Siapa? Kenapa? Selalu menjadi tanda tanya? Jawaban apa yang di cari diri Tak tau menau jalan apa ini yang ku tuju.

KUFUR!!!

Lalai memutar waktu Memaksa untuk tau tujuan jalan menderu Tergusur dalam tau memangku keyakinan yang berbuah mengikuti waktu Memikirkan setiap kemungkinan Pimplan dalam semua kemudahan Satu dan dua mengganggu Terburu-buru dalam kebodohan memamang diriku Tak usah Ditanya betapa rasisnya hidup Memilah Milah apa yang terwujud dan mengerut , Isi perut hanya angin lalu menghasilkan kentut. Siapa aku, dimana, apa sebenarnya tujuan, apa itu keyakinan, Tersesat dalam dalam kekufuran.

Pazar !! Setipis pagi dan malam

Meluap dalam sekejap Nama yang becap Sikap yang tak mantap Pikiran yang jauh dari ucap Ku bergetir menggigil dan memanggil asmanya Tumpah ruah dalam sekejap Ku mulai bernyanyi Melawan sepi Bertaruh Menenangkan hati Melawan pikir Dan tak sedikit ku menghardik diri sendiri Mencabik pola pola yang selama ini menjadikan ku kuat disegi segi hati Kalau saat ku tak sanggup lagi Pagi menjadikannya semakin nyata dalam halaman pazar mangil tidur.

Aku tak akan pura pura lupa

Aku tak kan pura pura lupa.

Aku Takut Nanti !!!

Vi, hari ni aku di tegur. Kau tau apa , pulang dari kampus tadi aku duduk di korsi depan tempat biasa kita bercerita . Tak ku sadari disebelah ku juga sedang duduk seorang anak bersama ayahnya, Anak itu tertawa sambil menunjuk ayahnya Vi . Ya gara gara itu aku juga teringat ayah, Ah.... sudah aku lanjutkan ceritanya ya. Asik menertawai ayahnya anak itu juga Menempel kan ponsel miliknya ke arah pipi ayahnya, anak itu sedang membandingkan wajah si ayah  yang berada di foto dan yang asli Vi, hahahaha aku tersenyum kecil melihat kelakuan anak dan ayah itu Vi. Mungkin karena geram melihat tingkah anaknya  ayah itu memeluk smabil menciumnya,  kan aku teringat ayah lagi. Anak itu masih menggenggam ponsel miliknya, tapi sang ayah coba untuk merebut. Anak itu rupanya sedang membuka laman muka buku sang ayah Vi, lucu bukan . Oh iya aku belum bilang ya hal yang membuat ku tertegur hehe , Aku memikirkan ini Vi, Kalau kita punya anak nanti dan telah pandai mengenal d...

Daya!!!

Daya  Kerdil tapa kemapuan berbuat juga bertanya. Kebolehan hanya mengangguk dan meng iya. Daya jika aku jadi satu dari semua daya Rela ku dimainkan sesuka saudara Tapi apa daya aku hanya kerdil tanpa daya  Daya Tercengang dengan ribuan daya didepan mata Dengan kicauan yang taunya bertanya kenapa kau Tak Berdaya. Sekali lagi aku kerdil tanpa daya jadi risau malu bertanya.

LALAI!

Bait tak berima Sajak tanpa tanya Mimpi tanpa rupa Aku hendak berhenti berpuisi Sejenak melelpalkan pikir,  Membuang setiap butir kerisauan Pagi kan datang lagi Hadir ku di uji kembali, lagi dan lagi. Kesempatan meregang kan otot Besok kan berlarilagi 

JALANI!

Untuk kali ini aku akan angkat bicara. Diam rasa menyakitkan yang terus kupelajari entah usainya. Demikian pula dengan kesewenangan hati yang berubah kapan pun ia suka. Hari ni kau tertawa dan esoknya kembali berlumur luka. Tiada yang menawari mu kepastian. Berceloteh tanpa henti,  apa cuma itu yang bisa ku dengarkan. "Kan kupilih jalan yang menyenangkan untuk menguai, terhembus bersama semua yang telah ditawarkan. Berhenti untuk mengucapkan berhenti untuk memikirkan. Namun sedikit pun tak terbesit untuk menaruhmu sebagai lawan."

PARAS!

Terlepas dari benar salahnya pikir, Baik atau buruknya tindakan. Sore itu usai lamunan panjang, Kembali terdengar geliak tawanya, usai semua yang telah terjadi ia kembali. Mengutarakan isi hati. Jawaban atas pertanyaan itu telah pudaarkan waras, sesekali ku jernih kan kening dengan segelas minuman, Biasanya siap pemantik dan keretek putih ditangan " lalu abaikan". ‌Tutur bahasa yang lembut, perangai yang menawan, senyuman yang hangat dan hati bak kaum bangsawan. Tak sekali kuremehkan perasaan , kenyataan buat angan jadi bualan, ingat dan hapuskan kebiasaan lamamu jadi panutan.

INGAT&LUPA

"lupa" Hanyalah jawaban itu Terucap dari ujar  berkali-kali sampai lupa seberapa sering ia mengucap lupa. Hanya tak mengingat seringnya lupa menghilangkan ingat. Ingat saat  pertama kali  ucap kata lupa namun lupa berapa kali ucapan kata "lngat" keluar dari ujar. Saat mengingat kata ingat ku tak lupa, dan saat hendak mengigat kata lupa  sungguh sering mengingatnya. Satu-satunya kata yang ingat adalah "ingat". Dan selalu melupakan, ingatan saat semua sudah lupa ku masih tak mau melupakan saat semua mengigat apa yang telah dilupakan saat itu juga ku siap untuk lupa karna saat ingat kadang lupa dan saat lupa sering tuk teringat. Saat ku tak mau mengigat saat tak sanggup tuk melupa, dan saat kata lupa kembali terdengar dan saat kau mempertahankan ingat pernah melupa, dan saat semua ingatan itu kembali, apa kau lupa kita sering mengingat-ingat. "Terimakasih ku sangup tuk mengigat"

^^ lamunan

Kosong Benar benar keterlaluan Sungguh dalam kekeliruan Tumbuh dalam ke bingunggan Lahir dalam ketiadaan Kusut dilumuri senyuman Tawa diiringi perpisahan Luput dalam awasan Letih dalam pembenaran Pagi menjelang kepergian lintingan keretek Jadi saksi bocah lesu berbadan karatan, mulai merangkai sedikit kata Menyambut perpisahan, Kini ia siap di lupakan, Kini ia kuat dalam himpitan, kini ia sangup menelan pertikaian, kini ia tabah menahan himbauan, Pagi itu sebelum pazar  sewenang senang tampakkan diri, sebelum hari memusuhi gelapnya, sebelum pilu tergambar dalam benak, ia kembali merangkul sayatan perih dilengan kirinya , kembali mengusap jemari mungil kikuknya, tak terlihat sedikit penyesalan Dimata, bahkan lihat ia kembali membaringkan segudang tanya dengan lelapnya. Pilu pilu kelak berlalu Senang rindu pastikan usai Lalai menunggu kelam dalam lamunan Apa yang baik kehendak Tuhan. Gelap kan datang kembali, lengan panjang telah kusising berkali kali, Kenakan...

RUNYEM!!!

Cerita terangkai, Berawal dengan rasa benci tanpa kenal mulai kau merasuk bertanya apa aku ini. Sesat aku bermuka dua,  Sepatah kata ku bohong semua. semua begitu mudah karna kau angap kita sama. Benar dijunjung tinggi,  Salah tanpa toleransi,  Bertanya pada diri apa  isi hati. Ku rengut rasa percaya,  Terinjak injak karena dusta,  Tapiii Benar ku tak berbuat apa-apa Setelah semua cerita,  Sempat ku abaikan semua yang ada. Apapun cerita ku tolak semu rasa salah. Lalu aku ini apa, Mungkin kata sastrawan tua, "Ku remuk dan hilang bentuk" Namun tak sepadan, Aku diatas itu semua Bahkan tak mengenali siapa aku ini. Terasuki? Jawaban apa yang kumiliki. Satu hal,  aku berubah mengerikan, Senyuman tak hilang,  dukaku dibadan. Kawan aku terlahirkan,

You can't be king again ^^

Kini kau telah mampu tersenyum lebar. Takkan lagi ada hati yang kau kasiani tuk berbagi. Salah sendiri mengapa tak menemani hati Sekarang mampus lah kau di kunyah kunyah sepi. Arah tak kau dengar. Ujar kau abai. Tagis engan kau lerai. Buat apa ku memungut mu kembali Gelandang peminta hati. Lupa diri, suap nasi dulu ku bagi Sapu tangan ku beri Senyuman ku isi Tapi tega kau dustai Matilah kau tetelan sendiri. Kau terkenang, Kala senang dan rasa berbagi. Kalau masalah sama ku temani. Seperti pacuan kuda , kejar kesana kemari. Demi ucapan setia dihati. Lihatlah aku kini . Tertawa keras memecah gendang telinga sendiri. Lalu kau berkata tentang kita lagi. Kau pergi dan juga simalang Yang terbuai kata manis mu kini. Simpanlah nama ku dihati Penghianat tanpa belas ini Akan melangkah tanpa benci. Menyerah bukan pilihan. Gagal bukan tujuan Alay.