Posts

JALANI!

Untuk kali ini aku akan angkat bicara. Diam rasa menyakitkan yang terus kupelajari entah usainya. Demikian pula dengan kesewenangan hati yang berubah kapan pun ia suka. Hari ni kau tertawa dan esoknya kembali berlumur luka. Tiada yang menawari mu kepastian. Berceloteh tanpa henti,  apa cuma itu yang bisa ku dengarkan. "Kan kupilih jalan yang menyenangkan untuk menguai, terhembus bersama semua yang telah ditawarkan. Berhenti untuk mengucapkan berhenti untuk memikirkan. Namun sedikit pun tak terbesit untuk menaruhmu sebagai lawan."

PARAS!

Terlepas dari benar salahnya pikir, Baik atau buruknya tindakan. Sore itu usai lamunan panjang, Kembali terdengar geliak tawanya, usai semua yang telah terjadi ia kembali. Mengutarakan isi hati. Jawaban atas pertanyaan itu telah pudaarkan waras, sesekali ku jernih kan kening dengan segelas minuman, Biasanya siap pemantik dan keretek putih ditangan " lalu abaikan". ‌Tutur bahasa yang lembut, perangai yang menawan, senyuman yang hangat dan hati bak kaum bangsawan. Tak sekali kuremehkan perasaan , kenyataan buat angan jadi bualan, ingat dan hapuskan kebiasaan lamamu jadi panutan.

INGAT&LUPA

"lupa" Hanyalah jawaban itu Terucap dari ujar  berkali-kali sampai lupa seberapa sering ia mengucap lupa. Hanya tak mengingat seringnya lupa menghilangkan ingat. Ingat saat  pertama kali  ucap kata lupa namun lupa berapa kali ucapan kata "lngat" keluar dari ujar. Saat mengingat kata ingat ku tak lupa, dan saat hendak mengigat kata lupa  sungguh sering mengingatnya. Satu-satunya kata yang ingat adalah "ingat". Dan selalu melupakan, ingatan saat semua sudah lupa ku masih tak mau melupakan saat semua mengigat apa yang telah dilupakan saat itu juga ku siap untuk lupa karna saat ingat kadang lupa dan saat lupa sering tuk teringat. Saat ku tak mau mengigat saat tak sanggup tuk melupa, dan saat kata lupa kembali terdengar dan saat kau mempertahankan ingat pernah melupa, dan saat semua ingatan itu kembali, apa kau lupa kita sering mengingat-ingat. "Terimakasih ku sangup tuk mengigat"

^^ lamunan

Kosong Benar benar keterlaluan Sungguh dalam kekeliruan Tumbuh dalam ke bingunggan Lahir dalam ketiadaan Kusut dilumuri senyuman Tawa diiringi perpisahan Luput dalam awasan Letih dalam pembenaran Pagi menjelang kepergian lintingan keretek Jadi saksi bocah lesu berbadan karatan, mulai merangkai sedikit kata Menyambut perpisahan, Kini ia siap di lupakan, Kini ia kuat dalam himpitan, kini ia sangup menelan pertikaian, kini ia tabah menahan himbauan, Pagi itu sebelum pazar  sewenang senang tampakkan diri, sebelum hari memusuhi gelapnya, sebelum pilu tergambar dalam benak, ia kembali merangkul sayatan perih dilengan kirinya , kembali mengusap jemari mungil kikuknya, tak terlihat sedikit penyesalan Dimata, bahkan lihat ia kembali membaringkan segudang tanya dengan lelapnya. Pilu pilu kelak berlalu Senang rindu pastikan usai Lalai menunggu kelam dalam lamunan Apa yang baik kehendak Tuhan. Gelap kan datang kembali, lengan panjang telah kusising berkali kali, Kenakan...

RUNYEM!!!

Cerita terangkai, Berawal dengan rasa benci tanpa kenal mulai kau merasuk bertanya apa aku ini. Sesat aku bermuka dua,  Sepatah kata ku bohong semua. semua begitu mudah karna kau angap kita sama. Benar dijunjung tinggi,  Salah tanpa toleransi,  Bertanya pada diri apa  isi hati. Ku rengut rasa percaya,  Terinjak injak karena dusta,  Tapiii Benar ku tak berbuat apa-apa Setelah semua cerita,  Sempat ku abaikan semua yang ada. Apapun cerita ku tolak semu rasa salah. Lalu aku ini apa, Mungkin kata sastrawan tua, "Ku remuk dan hilang bentuk" Namun tak sepadan, Aku diatas itu semua Bahkan tak mengenali siapa aku ini. Terasuki? Jawaban apa yang kumiliki. Satu hal,  aku berubah mengerikan, Senyuman tak hilang,  dukaku dibadan. Kawan aku terlahirkan,

You can't be king again ^^

Kini kau telah mampu tersenyum lebar. Takkan lagi ada hati yang kau kasiani tuk berbagi. Salah sendiri mengapa tak menemani hati Sekarang mampus lah kau di kunyah kunyah sepi. Arah tak kau dengar. Ujar kau abai. Tagis engan kau lerai. Buat apa ku memungut mu kembali Gelandang peminta hati. Lupa diri, suap nasi dulu ku bagi Sapu tangan ku beri Senyuman ku isi Tapi tega kau dustai Matilah kau tetelan sendiri. Kau terkenang, Kala senang dan rasa berbagi. Kalau masalah sama ku temani. Seperti pacuan kuda , kejar kesana kemari. Demi ucapan setia dihati. Lihatlah aku kini . Tertawa keras memecah gendang telinga sendiri. Lalu kau berkata tentang kita lagi. Kau pergi dan juga simalang Yang terbuai kata manis mu kini. Simpanlah nama ku dihati Penghianat tanpa belas ini Akan melangkah tanpa benci. Menyerah bukan pilihan. Gagal bukan tujuan Alay.

PELIK!!!

Separuh telah usai,  Binar gugur terkubur dalam derai kepalsuan. Bangun tersusun, hancur lalu tinggalkan Jalan ringan penat jadi penantian. Merangkai susunuan kata,  Hapus lalu acuhkan. Smaudra jadi Labuhan, Terukir senyum kala anak manusia rasakan bodohnya. Mungkin mentari tak tampakkan rupa. Walau kelabu menutup seluruh mata Tertawa terhempas sunyinya,  ratapi lalau membaui paksaan diri untuk berdoa. Sajauh ratapan mata berisi ke raguan Memohon agar kapal karam atau merapat ke pelabuhan. Kini tinggal aku dan kau sibodoh tampa pengetahuan. Aku berpulang pada sang halik Harapan kecil untuk ini yang terlanjur menjadi pelik.