TANI & PADI
Sadar diawaal februari
Bulan pertama kala masih membatu
Mengeras dan diairi
Waktu yang tepat untuk dinanti
Dengan sarung dan baju hangat jika begini
Benih mulai dipilih
Berbaris putih menunggu jernih
Menghijau dan merapih
Sampai waktu kan beralaih
Belum, masih awal
Dijejerkan dismaping pagar
Satu persatu sihijau kecil mulai disebar
Bulan bertutur
Kini semua menunggu disumur
Memantau hujan
Memeriksa rerumputan
Berganti hari
Remaja hijau mulai gemetar
Penggerat dan pipit mulai menyambar
Kata sabar jelas tergambar
Pergi pagi pulang petang dengan gemar
Bulan bernyanyi
Sikuning terlihat kembar
Pematang mulai gempar
Riuh tawa menggelar
Syukur jelas tergambar
Bulan kembali sepi
Kini padi telah menua
Dipisahkan dari Tangkai
Kembali dijemur smapai waktunya
Siputih lahir
Ditaksir ribuan mata
Pasar, desa maupun kota jadi primadona
Lalu sampai waktunya
Nasi wujud lainnya
mereka yang akan tersenyum
Menikmati hambarnya tanpa kata
"PETANI"
***********
"makan siang hari ini ada kejadian yang membuat ku tertegur, Aku diwarung bersama ayah, Ia menupuk bahuku karna aku meniup nasi yang masih panas.
Ayah bilang: "kau tak bersabar, Lihatlah petani menanam bibit, Menunggu bibitnya tumbuh, Setelah bibitnya tumbuh bibit itu akan ditanam, Setelah ditanam harus diperhatikan air disawah, Rumput sawahnya, Bagimana dengan hama, Setalah Menunggu beberapa bulan baru padi dipanen, Dijemur dan dipisahkan dari kulitnya dan itu membutuhkan waktu yang berbulan bulan lamanya. Tapi kau Menunggu nasimu hangat saja tidak bisa"
Wehhhhhhhh
Ayah kayak mario teguh hahaha
Aku coba meledek ayah
Bammmmm
Bahu ku di tepuk lagi
Njer...
Tapi aku paham apa yang mau dismapaikan ayah.
Jumat, 3 februari 2017
Bulan pertama kala masih membatu
Mengeras dan diairi
Waktu yang tepat untuk dinanti
Dengan sarung dan baju hangat jika begini
Benih mulai dipilih
Berbaris putih menunggu jernih
Menghijau dan merapih
Sampai waktu kan beralaih
Belum, masih awal
Dijejerkan dismaping pagar
Satu persatu sihijau kecil mulai disebar
Bulan bertutur
Kini semua menunggu disumur
Memantau hujan
Memeriksa rerumputan
Berganti hari
Remaja hijau mulai gemetar
Penggerat dan pipit mulai menyambar
Kata sabar jelas tergambar
Pergi pagi pulang petang dengan gemar
Bulan bernyanyi
Sikuning terlihat kembar
Pematang mulai gempar
Riuh tawa menggelar
Syukur jelas tergambar
Bulan kembali sepi
Kini padi telah menua
Dipisahkan dari Tangkai
Kembali dijemur smapai waktunya
Siputih lahir
Ditaksir ribuan mata
Pasar, desa maupun kota jadi primadona
Lalu sampai waktunya
Nasi wujud lainnya
mereka yang akan tersenyum
Menikmati hambarnya tanpa kata
"PETANI"
***********
"makan siang hari ini ada kejadian yang membuat ku tertegur, Aku diwarung bersama ayah, Ia menupuk bahuku karna aku meniup nasi yang masih panas.
Ayah bilang: "kau tak bersabar, Lihatlah petani menanam bibit, Menunggu bibitnya tumbuh, Setelah bibitnya tumbuh bibit itu akan ditanam, Setelah ditanam harus diperhatikan air disawah, Rumput sawahnya, Bagimana dengan hama, Setalah Menunggu beberapa bulan baru padi dipanen, Dijemur dan dipisahkan dari kulitnya dan itu membutuhkan waktu yang berbulan bulan lamanya. Tapi kau Menunggu nasimu hangat saja tidak bisa"
Wehhhhhhhh
Ayah kayak mario teguh hahaha
Aku coba meledek ayah
Bammmmm
Bahu ku di tepuk lagi
Njer...
Tapi aku paham apa yang mau dismapaikan ayah.
Jumat, 3 februari 2017
Comments
Post a Comment