Posts

#12211

Tak banyak yang bisa ku katakan selain sukur atas segala limpahan Terlalu banyak untuk disesali Bahkan sebagian berkarat dan bersarang di hati satu kunci yang selalu kau beri "perbaiki" Kini menginjak angka 21 Pencarian atas jati diri telah berlalu Pantasnya sekarang fokus pada satu Tak berbelit Belit atau kaku Terimakasih padamu Allah Tuhan ku Alhamdulillah Astaghfirullah Kau satu dan selalu begitu.

Orang!

Pertama. Pura-pura  menyimpan lara Tersenyum tulus jauh dari pancangnya Tutur kata diatur  belah logika Tujuan lindur ntah apa guna  Kedua. Melakoni peran itu hinga tua Merasa benar dan bungkam Rima bahasa,  Muak untuk bertanya Sesal nanti sudah biasa Tiga . Bukan peran utama Tapi punya jalan cerita Kisah diatur hati penentunya Jauh dari atur cibir dan terluka Sampai tua juga tak apa Empat. Merasa penghibur Pembahasan anti ngawur Sudah berumur  Walau nasi sudah menjadi bubur  Masih coba  mengatur Lima. Suka suka  Jauh dekat hal biasa Rupa senag dan tawa bukan kesan utama Diatas kepentingan sendiri  Sisanya biar urus sendiri

KAU DAN TANAPA !!!

Pinus menari Merpati riuh memangil  Dan kau  Hari  kembali sunyi hilang trik membisik Tersisa embun halus menggigil Dan kau Rembulan tanpak di sela tawa Bintang cemerlang usik-usikan  Dan kau Langkah urung menjadi hasil Kecil harapan tuk bisa bergulir Roda kekurangan detail Dan kau Pulang kembali ke sisi Tersenyum dan sakit kembali Dan kau Kini terbenam Sayup pandangan Hilang keriangan Tak terjawab atas pertanyaan Tanpa kau Pinus menua Merpati senyap bisu Lalu kau? Hari  kembalii hilang gelap kentara Tersisa embun halus menggigil Lalu kau ? Rembulan tanpak di sela lara Bintang hilang   Lalu kau ?

PONSEL!

Menatap ponsel lamaku Terkenang manis pilu menyatu Kala kau mulai merayu Masa indah dan duka menyatu Kini terasing disisi kamarku Membisu dengan Krip lampu yang tak lagi biru. Ketika masa membuat semua nyata berlalu Ketika sesal dan sadar yang kian menderu .Kebohongan. Kini ku sadar seberapa kecil diriku. Bait puisi ku tak lagi seperti dulu, dimana tiap sajaknya terlukis tentang mu. Tenggelam lah kau Dengan Krip bintang kesayangan mu. Lupakan tiap dering di ponsel mu

Tanda?

Ketika para benih telah berubah menjadi kecamba, kala rupa telah berganti mimiknya. Seperti itu juga cerita yang kehilangan populernya. Silih berganti semua berubah Memilih arah  Mengumpulkan Maslah Terbelah dan menjadi sebuah kisah Seperti pusi beribu makana bagaimana aku? Siapa? Kenapa? Selalu menjadi tanda tanya? Jawaban apa yang di cari diri Tak tau menau jalan apa ini yang ku tuju.

KUFUR!!!

Lalai memutar waktu Memaksa untuk tau tujuan jalan menderu Tergusur dalam tau memangku keyakinan yang berbuah mengikuti waktu Memikirkan setiap kemungkinan Pimplan dalam semua kemudahan Satu dan dua mengganggu Terburu-buru dalam kebodohan memamang diriku Tak usah Ditanya betapa rasisnya hidup Memilah Milah apa yang terwujud dan mengerut , Isi perut hanya angin lalu menghasilkan kentut. Siapa aku, dimana, apa sebenarnya tujuan, apa itu keyakinan, Tersesat dalam dalam kekufuran.

Pazar !! Setipis pagi dan malam

Meluap dalam sekejap Nama yang becap Sikap yang tak mantap Pikiran yang jauh dari ucap Ku bergetir menggigil dan memanggil asmanya Tumpah ruah dalam sekejap Ku mulai bernyanyi Melawan sepi Bertaruh Menenangkan hati Melawan pikir Dan tak sedikit ku menghardik diri sendiri Mencabik pola pola yang selama ini menjadikan ku kuat disegi segi hati Kalau saat ku tak sanggup lagi Pagi menjadikannya semakin nyata dalam halaman pazar mangil tidur.